oleh

Apa itu Cellebrite? Alat Yang Digunakan Polri untuk mengakses jejak digital Jumhur Hidayat.

Cellebrite merupakan alat perangkat keras dan aplikasi perangkat lunak buatan perusahaan digital intelijen Israel. Alat ini bisa mengambil data-data dari perangkat elektronik, seperti gawai, komputer, tablet, kartu penyimpan data (memory card), sampai perangkat keras penyimpan data (hard disk).

Cellebrite adalah perusahaan Intelligen Digital Israel yang menyediakan alat untuk pengumpulan, analisis, dan pengelolaan data digital. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan dari perusahaan multinasional Jepang, Sun Corporation, yang bermarkas di Nagoya.

Cellebrite didirikan pada tahun 1999 oleh Avi Yablonka, Yaron Baratz, dan Yuval Aflalo.

Perusahaan aplikasi intelijen ini bermarkas di Petah Tikva Israel. Dua anak perusahaannya, Cellebrite USA Corp. dan Cellebrite GmbH masing-masing bermarkas di Parsippany, New Jersey, AS, dan Munich, Jerman.

Pada tahun 2007, Cellebrite mendirikan divisi independen yang menargetkan industri forensik seluler. Mobile Forensics Cellebrite memperkenalkan produk forensik seluler pada tahun 2007, dengan merek Universal Forensic Extraction Device (UFED), memiliki kemampuan untuk mengekstrak data fisik dan logis dari perangkat seluler seperti telepon seluler dan perangkat seluler genggam lainnya, termasuk kemampuan untuk memulihkan data yang dihapus dan menguraikan informasi yang dienkripsi dan dilindungi kata sandi.

Cellebrite diakuisisi oleh FutureDial Incorporated tahun 2007, salah satu pemegang saham utamanya Sun Corporation. Pada tahun 2019, Mitra Pertumbuhan Israel (IGP) menanamkan investasi USD110 juta di Cellebrite.

Perusahaan ini memiliki misi “pemimpin global dalam bermitra dengan organisasi publik dan swasta untuk mengubah cara mereka mengelola Digital Intelligence dalam penyelidikan untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa, mempercepat keadilan dan memastikan privasi data.”

Cellebrite juga membantu organisasi dalam menguasai kompleksitas investigasi digital yang disetujui secara hukum dengan Platform Investigasi Intelijen Digital.

“Teknologi kami membantu menghukum pelaku kejahatan dan menghadirkan keadilan bagi korban kejahatan, termasuk eksploitasi anak, pembunuhan dan kekerasan seksual, narkoba dan perdagangan manusia, penipuan, dan kejahatan finansial,” tulis Cellebrite mengenai misi perusahaan.

Dalam situs juga tertulis teknologi Cellebrite sudah dibeli oleh 6.700 badan keselamatan publik, perusahaan di lebih dari 140 negara, dan digunakan di lebih dari 5 juta kasus di seluruh dunia.

Alih-alih sulit didapat, rupanya komunitas peretasan menemukan model yang lebih baru dari Cellebrite UFED sekarang telah dijual di marketplace Ebay.

Pada 2019, harga yang dipatok untuk versi baru Cellebrite UFED sebesar 6.000 dolar AS atau sekitar Rp 86,9 juta.

Menurut Thomas Brewster dari Forbes, Cellebrite UFED yang lebih lama memasuki pasar barang bekas dengan harga murah sekitar 100 dolar AS atau Rp 1,4 juta. Dengan kata lain, siapa pun sekarang dapat membelinya dan membobol smartphone.

Perusahaan Intelijen Digital Israel itu mendapat perhatian pada tahun 2018 setelah mengklaim dapat membuka iPhone dengan harga murah.

Baca Juga  Kantor Bahasa Banten Luncurkan Aplikasi Kamus Bahasa Baduy

Ini juga terkenal karena penolakannya untuk membocorkan eksploitasi yang digunakan untuk melewati kata sandi

Sebelumnya, akun Twitter Hacker Fantastic memberikan demo penggunaan Cellebrite UFED. Menggunakan peranti tersebut tidak memerlukan kecanggihan teknis tingkat tinggi.

Di sisi lain, Forbes menemukan catatan dari Cellebrite yang memohon kepada pelanggan untuk mengembalikan unit alih-alih menjualnya kembali, tetapi tampaknya itu tidak menghentikan banyaknya alat peretasan ponsel yang sekarang beredar.

Tak hanya itu, Cellebrite UFED sendiri tidak terlalu aman. Dalam wawancara dengan Matthew Hickey, seorang peneliti keamanan siber dan salah satu pendiri Hacker House, mengungkapkan bahwa perangkat tersebut belum dibersihkan sebelum dikembalikan ke pasar.

Hickey menemukan bahwa unit bekas berisi informasi tentang perangkat apa yang dicari, kapan digeledah, dan jenis data apa yang dihapus. Selain itu, nomor pengenal seluler seperti kode IMEI juga dapat diketahui.

Hickey yakin ia bisa mendapatkan lebih banyak informasi pribadi, seperti daftar kontak atau obrolan, meskipun ia memutuskan untuk tidak menyelidiki data semacam itu.

Hickey juga dapat menemukan kata sandi admin perangkat dengan relatif cepat dan percaya bahwa peretas terlatih dapat menggunakan Cellebrite UFED untuk membobol smartphone orang lain.

Cellebrite disebut dapat menelusuri rekam jejak aktivitas yang dilakukan di sebuah perangkat. Lalu penggunanya dapat mengambil data tersebut untuk proses analisa.

“Jadi Cellebrite itu hanya bisa menganalisa atau mengambil data dari handphone (HP), kalau HP-nya sudah dipegang oleh penyidik,” ujar CEO Digital Forensic Indonesia Ruby Alamsyah kepada Selasa (6/4).

Selain itu, Cellebrite juga dikatakan dapat memulihkan data yang telah dihapus. Namun kemampuan itu bisa terjadi asalkan data yang telah dihapus tidak tertumpuk data terbaru.

“Sepuluh tahun lalu seseorang harus duduk dan secara fisik menguliti ponsel. Jika pesan telah dihapus, maka akan hilang selamanya. Tapi seperti di komputer, bahkan jika Anda menghapus sesuatu, itu sebenarnya masih ada di smartphone. Sistem kami dapat mengambilnya. Ini lebih sulit dilakukan ketimbang dengan komputer karena ada begitu banyak sistem dan perangkat,” ujar Carmil pada Desember 2019.

Ruby berkata Cellebrite merupakan sebuah software yang digunakan kepolisian untuk analisa forensik terhadap perangkat pintar, seperti ponsel, tablet dan gawai lainnya.

“Cellebrite itu adalah software mobile forensik. Apa itu itu? Software yang berfungsi untuk analisa forensik terhadap mobile device atau terhadap handphone tablet, atau gadget lainnya,” ujarnya.

Di sisi lain Ruby mengatakan perangkat lunak ini berbeda dengan perangkat penyadap yang kerap digunakan buat kepentingan intelijen. Dia bilang Cellebrite dapat dibeli siapa saja, baik instansi pemerintahan maupun masyarakat umum.

“Software ini merupakan software umum dan komersial, siapa saja bisa beli baik itu swasta maupun instansi pemerintah. Kalau software penyadap atau intelijen mereka membatasi diri, enggak boleh dibeli oleh swasta,” ujar Ruby.

Baca Juga  Resmi, Facebook Berganti Nama Jadi Meta

Ruby pun menegaskan bahwa software ini hanya sekadar software forensik digital, bukan alat yang fungsinya melakukan penyadapan melalui jarak jauh.

“Jadi bukan software penyadap atau software intelijen. Ini cuma software forensik digital khusus untuk mobile device,” ujarnya.

Track Record

Cellebrite pernah dipermasalahkan oleh American Civil Liberties Union cabang Michigan, Amerika Serikat, pada April 2011, karena polisi Michigan State Police (MSP) menggunakan Cellebrite UFED untuk melakukan penggeledahan telepon seluler warga secara tidak sah.

Cellebrite juga dilaporkan menawarkan untuk membuka kunci iPhone yang terlibat dalam sengketa enkripsi FBI dengan Apple pada Maret 2016.

FBI pun mengumumkan telah berhasil mengakses iPhone berkat pihak ketiga. Sebuah laporan pers mengklaim Cellebrite telah membantu membuka kunci perangkat, namun disangkal oleh sumber FBI.

  • Turki

Data dump tahun 2017 menunjukkan Cellebrite menjual produk ekstraksi datanya ke Turki, Uni Emirat Arab, dan Rusia.

  • Arab Saudi

Sebuah laporan dirilis yang mengklaim bahwa sebuah perusahaan Israel memberi Arab Saudi layanan teknologi untuk meretas ponsel pada 16 September 2020.

Staf di Cellebrite meminta warga Saudi mengirim perwakilan pemerintah untuk menemui salah satu karyawan mereka di bandara Riyadh.

Menyusul permintaan tersebut, perwakilan Cellebrite melakukan perjalanan ke Riyadh pada November 2019 untuk upaya peretasan ke telepon milik seorang karyawan Kementerian Kehakiman Saudi.

Perwakilan Cellebrite meminta pihak berwenang untuk membiarkannya melewati pemeriksaan paspor tanpa dicap paspornya atau peralatan elektroniknya diperiksa, sementara hanya tersisa di bawah kepemilikannya.

Peretas seharusnya menuju ke kamar hotel yang terisolasi dari bandara, di mana proses tersebut direncanakan untuk dijalankan tanpa pengawasan elektronik. Perwakilan Cellebrite kemudian kembali ke bandara Riyadh untuk terbang kembali ke London.

  • Hongkong

Pada Agustus 2020, dilaporkan bahwa Cellebrite menjual layanannya kepada Kepolisian Hong Kong untuk digunakan dalam membuka ponsel para demonstran yang ditahan selama protes Hong Kong 2019-20.

Pada 7 Oktober 2020, Cellebrite mengumumkan bahwa mereka akan berhenti menjual solusi dan layanannya kepada pelanggan di Hong Kong dan China sebagai akibat dari perubahan peraturan AS.

  • Eropa Timur

Program Cellebrite UFED digunakan untuk menganiaya oposisi di Belarus dan Rusia. Pada Maret 2021 setelah mengetahui bahwa teknologi digunakan dalam kasus Lyubov Sobol, aktivis Yerusalem telah mengajukan gugatan terhadap Cellebrite di Mahkamah Agung Israel. Tak lama setelah perusahaan mengumumkan penghentian kemitraan dengan Rusia.

  • Indonesia

Cellebrite UFED Touch, digunakan oleh Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Cabang Surabaya. Alat tersebut pernah digunakan dalam kasus pelanggaran UU ITE seorang artis. Terbaru, polisi juga menyedot data dalam kasus Jumhur Hidayat dengan teknologi ini.

Terkait Kasus Jumhur Hidayat

Sidang kasus penyebaran berita bohong dengan terdakwa Jumhur Hidayat, petinggi Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), terus berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Salah satu fakta terbaru yaitu Mabes Polri diketahui menggunakan perangkat dan aplikasi buatan Israel, Cellebrite, untuk meyedot jejak digital Jumhur.

Ini terungkap dalam sidang lanjutan pada Senin, 5 April 2021. Dalam sidang ini, jaksa penuntut umum menghadirkan seorang pegawai Mabes Polri, Asep Saputra, sebagai saksi. Asep merupakan ahli forensik digital.

Dalam persidangan, Asep menjelaskan tahapan pengambilan data digital milik Jumhur. “Analisis data digital hanya terkait dengan unggahan Jumhur soal Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja,” kata Asep, Senin, 5 April 2021

Asep berkali-kali menegaskan bahwa polisi hanya mengambil unggahan soal omnibus law. Kepada majelis hakim, Asep memastikan bahwa cuitan Jumhur yang menjadi dasar pidana diunggah lewat perangkat elektronik miliknya.

Salah satu anggota tim kuasa hukum terdakwa, Haris Azhar, mengatakan penggunaan aplikasi itu masih dapat diperdebatkan. “Penggunaan alatnya bisa diperdebatkan. Artinya, ada alat yang bisa nerobos HP (telepon genggam),” kata Haris.

Jumhur mengatakan tidak diberi pilihan bahwa seluruh data digitalnya diambil oleh pihak penyidik. “Ya saya mau apa lagi, memang saya bisa nolak, saya kan nggak bisa nolak,” kata dia.

Beberapa alat elektronik milik Jumhur yang disita oleh penyidik dan kejaksaan, di antaranya lima memory card, komputer beserta hard disk, tablet, dan sebuah laptop milik anak terdakwa. Dalam kesempatan itu, Jumhur mengatakan “lima flash disk miliknya belum jelas keberadaannya, padahal perangkat itu merupakan alat yang ia pakai untuk bekerja.”

Sejauh ini, penuntut umum belum menghadirkan saksi yang dapat menjelaskan hubungan cuitan Jumhur terhadap keonaran dan kericuhan terkait UU Omnibus Law Cipta Kerja. Jumhur Hidayat, untuk pertama kalinya hadir secara langsung di ruang sidang PN Jaksel, Senin.

Ia mengatakan, dirinya akan terus hadir secara langsung di persidangan untuk agenda-agenda pemeriksaan berikutnya. Sebelumnya, Jumhur mengikuti sidang secara virtual dari rumah tahanan (rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta.

Majelis hakim pun mengumumkan sidang akan berlanjut di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (8/4/2021). Jumhur Hidayat didakwa oleh jaksa dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong yang menimbulkan kericuhan. Jumhur, menurut jaksa, menyebarkan kabar bohong itu lewat akun Twitter pribadinya.

Jumhur pun dijerat dengan dua pasal alternatif, yaitu Pasal 14 ayat (1) juncto Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 KUHP atau Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU No.19/2016 tentang Perubahan UU No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Penulis: Fikri Ainul Hana (Redaktur lensaish.com)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *