oleh

Kesalahan yang Sering Terjadi: Ternyata Ma’ al-Barod Bukan Air Embun, Lantas apa?

LENSAISH.COM – Kitab kuning adalah bahan ajar utama dalam tradisi pesantren, dengan metode “utawi iki iku”, kitab kuning biasa diajarkan kepada santri-santri khususnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, mulai dari kitab Taqrib sampai kitab-kitab yang lebih besar.

Kitab Taqrib adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh Syaikh Abu Syuja’, lahir di kota Bashroh pada tahun 434 H. Dan wafat pada tahun 488 H.

Beliau hidup dan belajar madzhab Imam Syafi’i di kota Bashroh selama lebih dari 40 tahun.

Kesalahan yang sering terjadi saat mempelajari kitab Taqrib adalah ketika mengartikan kata Ma’ al-Barod sebagai air embun.

Baca juga:

Baca Juga  Hari Santri dan Sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober

Definisi air embun

Dalam kitab Tausyikh, air embun dalam bahasa arab adalah Ma’ an-Nada.

Syaikh Nawawi mengartikannya sebagai air yang turun diakhir malam dan jatuh pada tanaman dan rerumputan hijau.

Dilansir dari Wikipedia, embun adalah uap air yang mengalami proses pengembunan (proses perubahan zat gas menjadi zat cair) dan biasanya muncul di pagi hari.

Imam Kurdi dalam kitab Khawasy as-Syarwani menjelaskan bahwa air embun hanya jatuh pada tumbuhan dan rerumputan hijau pada musim semi.

Baca juga:

Definisi Ma’ al-Barod

Syaikh Ibrahim al-Bajuri mengartikan Ma’ al-Barod sebagai air yang turun dari langit dalam keadaan beku, kemudian mencair di permukaan tanah.

Baca Juga  Peringatan Anti Kekerasan Perempuan 2021, Ponpes DAFA Besongo Gelar Lomba Video Kreatif

Secara lebih gamblang, al-Murtadlo az-Zabidi mendefinisikan Ma’ al-Barod sebagai biji atau butiran awan. Al-Laits menyebutnya air hujan yang beku.

Syaikh Nawawi al-Bantani juga menambahkan keterangan bahwa air seperti ini pernah ditemukan di kota Makkah.

Baca juga:

Dari tambahan Syaikh Nawawi ini, bisa disimpulkan bahwa Ma’ al-Barod hanya turun di daerah yang panas seperti kota Makkah.

Dari dua definisi diatas, jelas terdapat perbedaan. Air embun hanya terdapat di pagi atau malam hari dan bertempat di tumbuhan dan rerumputan hijau, Sedangkan Ma’ al-Barod bisa turun kapan saja di hawa yang sangat panas.

Baca Juga  6 Skill Analitis Agar Karirmu Bertumbuh

Kesimpulan, lebih tepatnya Ma’ al-Barod diartikan sebagai air hujan es batu.

Namun, air embun bisa digunakan untuk bersuci dengan cara mengumpulkanya disuatu wadah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *