oleh

Tingkatkan Skill Literasi, Puluhan Santri dan Mahasiswa Ikuti Workshop Literasi Milenial

LENSAISH.COM, KUDUS – Sekira 50 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan santri di Kabupaten Kudus, mengikuti workshop literasi yang diselenggarakan oleh Ma’had Aly TBS Kudus, Dewan Mahasantri (Dema) Ma’had Aly TBS Kudus, Perpustakaan IAIN Kudus dan Pondok Prisma Qur’anuna.

Dalam acara yang didukung juga oleh para Cendekia Baznas dari Ma’had Aly TBS Kudus ini, sebagai pemantik pertama adalah Dr KH Ahmad Faiz Lc MA (mudir Ma’had Aly TBS Kudus yang juga pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Menawan) dan H Nur Said MAg MA (kepala Perpustakaan IAIN Kudus/ ketua Lakpesdam NU Kudus).

Sedang narasumber workshop yang dihadirkan adalah Hj Farida Ulyani MPd (dosen Bimbingan dan Konseling IAIN Kudus/ pengasuh Pondok Prisma Qur’anuna) serta Rosidi (mentor Cendekia Baznas Ma’had Aly TBS Kudus).

Baca Juga  Pelatihan Desain Grafis KOPMA EXPO #4 2021, Harish Ashfa: Pentingnya Riset dalam Membuat Konten

Dr KH Ahmad Faiz di depan para peserta, sangat mengapresiasi penyelenggaraan workshop ini, dan mendorong para peserta (santri/ mahasiswa) untuk berkontribusi dalam dunia literasi.

“Nabi Muhammad sendiri secara khusus menyiapkan generasi yang siap menulis. Sosok yang dipersiapkan khusus, yakni Zaid bin Tsabit,” katanya sembari mengisahkan bagaimana proses Zaid bin Tsabit menekuni (terjun) di dunia literasi.

Cendekia Baznas Ma’had Aly TBS Kudus foto bersama dengan sebagian peserta workshop. (Foto: LA/Istimewa)

Mudir Ma’had Aly TBS Kudus itu juga mendorong para peserta workshop, khususnya para Cendekia Baznas, untuk menekuni literasi.

“Budaya menulis dari dulu sangat penting. Nama bisa sirna, jasad bisa tidak terlihat, tetapi karya akan menjadikan umur kita panjang sepanjang panjangnya,” tuturnya.

Baca Juga  Harish Ashfa: Konsistensi Brand Guidelines Berpengaruh Terhadap Kredibilitas Brand

H Nur Said juga mendorong para peserta untuk menulis. “Banyak teladan tentang literasi, salah satunya RA Kartini. Buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ dulunya adalah ‘curhatan’ Kartini yang kemudian di bukukan,” ujarnya.

Sedang Hj Farida Ulyani, selain memotivasi peserta, menunjukkan bahwa seorang dalam menulis itu ada yang yang menulis dari hati (agar yang membaca bisa tercerahkan), menulis dengan wawasan (mencerdaskan diri dan lingkungan sekitar), menulis tentang rekam jejak dan tulisan yang bisa merubah dunia. Sementara Rosidi, pada kesempatan itu berbagi tips dan trik mencari ide dan menuliskannya menjadi sebuah opini. (LA/HA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.