oleh

Tradisi Pasar Jawagendong di Desa Buntet Pesantren

LENSAISH.COM, CIREBON – Setiap masyarakat memiliki kebudayaan dan tradisinya masing-masing. Tradisi di Indonesia yang kaya akan budaya membuat setiap daerah memiliki ciri khas. Salah satu tradisi yang masih
terjaga sampai sekarang adalah tradisi Jawagendong.

Jawagendong merupakan sekumpulan pedagang-pedagang yang datang dari berbagai daerah di
desa Buntet Pesantren ketika tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Menurut salah satu warga
Buntet Pesantren, tradisi Jawagendong sendiri tidak ada yang menyetuskan.

“Jawagendong adalah perayaan Hari Raya kedua bagi orang-orang yang berpuasa di Bulan
Syawal. “ Tutur Muhammad Ahmad Mamat, salah seorang warga yang paham akan
sejarah Buntet Pesantren.

Baca Juga:

Baca Juga  Sebut Skill Penting di Era Digital, CEO Aish Media Group: Harus Kreatif Menangkap Peluang

Biasanya orang-orang menyebut hari raya tersebut dengan Hari Raya Ketupat, dimana
masyarakat setempat akan bersama-sama membuat makanan yang berbahan baku ketupat. Di
Hari Raya Ketupat, masyarakat akan memanfaatkan waktunya untuk bersilaturahmi ke saudara-
saudara terdekat. Para pedagang yang membuka ruko di sepanjang jalan menyediakan berbagai
jenis barang dan makanan, dari mulai manisan, buah-buahan, dan mainan anak-anak.

Hal ini dapat mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat Buntet Pesantren. Anak-anak akan
bermain bersama saudara dan tetangga-tetangganya dengan mainan yang mereka beli di
Jawagendong, dan orang tuanya berbincang hangat sambil menyantap ketupan dan manisan.

Tradisi Jawagendong juga membuka kesempatan bagi para pedagang untuk menjajakan barang
dagangannya. Bukan hanya dari masyarakat Buntet Pesantren saja yang pergi memborong
dagangan-dagangan yang bisa terbilang murah. Masyarakat yang tinggal di sekitar Buntet
Pesantren atau bahkan jauh di kota menyempatkan waktunya untuk berbelanja di Jawagendong.

Baca Juga  HMJ MHU UIN Walisongo Bekali Mahasiswa Wawasan Mengelola Dana Haji dan Umrah

Baca Juga:

Di hari raya tersebut, para santri yang mondok di Pesantren Buntet pun berdatangan, karena
memang Hari Raya Ketupat merupakan batas terakhir santri datang ke pesantren. Ini juga dapat
dimanfaatkan oleh Wali Santri untuk membeli oleh-oleh khas dari Buntet Pesantren.

Dari banyak masyarakat Buntet Pesantren yang bermukim di luar kota, Jawagendong adalah
sebuah objek untuk melepaskan rasa rindunya ke desa tercinta. Mereka akan berkumpul di
tempat makan yang hanya dibuka ketika Hari Raya Ketupat, dan melepas rindu di sana, sebelum
mereka harus kembali ke rumahnya masing-masing.

Baca Juga  UNISNU Buka Pelatihan 7 Bahasa, Aprilia: Belajar Bahasa, Belajar Budaya
  • Kontributor: Robith Marzuban

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *